Testimonial

Testimonial Untuk yang Ingin Tahu atau Baru Bermula, atau Belum Merasa Kesannya

1. Saya sedih part yg A_B cakap, golongan 'huhaa' ni, memula diam, pastu bila JT keluar dari bilik, mereka gelak sakan. Seolah2 mencurah air ke daun keladi.... (shiha)

2.
Dulu masa kat UTM pun bila diorang buat ghast, terus kunci pintu bilik. Sepanjang kat UTM 5 tahun, tak pernah dengar karkun nasihat, sebabnya kunci bilik. (bentara)

3.
Bro Ben, ada member dulu, bukak2 pintu je kena baling selipar jepun betul-betul kat muka. Balik surau, dia la orang pertama angkat tangan menangis.... (Abu_Bunyameen)

4.
aku dulu pun bengang jugak. Tengah main tekken playstataion, dia pulak ketuk pintu. rumah yang tengah ribut dengan hiruk pikuk sparring tekken dan penyokong2 fanatik, tiba2 senyap sunyi bila dengan karkun bagi salam.time tu semuanya buruk pasal JT ni. selekeh la, ketuk rumah orang la, dakwah dia boring la, tapi bila dah rasa manisnya, segalanya make sense.(Syahrezan)

5.
ana pernah duduk dalam majlis seorang Ustaz yang selalu tibai karkun.

Masa sesi soal jawab, seorang jemaah tanya:

"Saya ada nampak orang solat masbuk. Bila imam bagi salam, makmum bangun. Tiba-tiba sorang ke depan sikit, jadi imam pulak dah"

Ustaz ni jawab "Biasanya orang tabligh le buat macam tu..." (dialog lebih kurang tapi maksud yang sama).

Ana nak protes masa tu tapi tanya dulu karkun tempatan kat sebelah. Dia senyum je, kata dia, biasa la tu... kita terima je la.

Rupanya memang Ustaz tu anti karkun. Daripada bertekak berterusan, baik diamkan je.
(bentara)

Sholat atau kuliah, mana patut Didahulukan


“Shalat Dulu atau Kuliah Dulu?” ketegori Muslim. Assalaamu`alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Ustadz, bagaimanakah bila saya sedang kuliah lalu masuk waktu shalat. Apakah saya shalat dulu atau menunggu selesai kuliah. Sebagian orang mengatakan bahwa ada rukhsah dalam hal ini, sehingga boleh menunda shalat sampai selesainya kuliah. Namun sahabat saya dengan tegas menolaknya dan mengatakan mana dalilnya? Bagaimana menurut ustadz?

Muhammad

Jawaban

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

Para ulama memang berbeda pendapat dalam hukum shalat berjamaah di awal waktu. Sebagiannya mengatakan bahwa hukumnya wajib, sehingga bila ditinggalkan berdosa.

Namun pendapat ini bukan satu-satunya pendapat. Masih banyak pendapat lain yang tidak demikian, meski tetap sangat menganjurkan agarshalat berjamaah di awal waktu. Bagi mereka hukumnya sunnah muakkadah, sunnah yang sangat dianjurkan. Tapi tidak sampai wajib.

Tentunya masing-masing pendapat tidak asal mengeluarkan pernyataan. Sebab mereka adalah para ulama yang levelnya sudah mencapai tingkat mujtahid mutlak, sehingga sangat berhak untuk mengistimbath hukum langsung dari sumbernya dan mengeluarkan pendapat fiqih secara mandiri.

Untuk lebih detailnya, silahkan baca rincian berikut ini.

1. Pendapat Pertama: Fardhu Kifayah

Yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Asy-Syafi`i dan Abu Hanifah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Habirah dalam kitab Al-Ifshah jilid 1 halaman 142. Demikian juga dengan jumhur ulama baik yang lampau maupun yang berikutnya . Termasuk juga pendapat kebanyakan ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah.

Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang menjalankan shalat jamaah, maka berdosalah semua orang yang ada di situ. Hal itu karena shalat jamaah itu adalah bagian dari syiar agama Islam.

Di dalam kitab Raudhatut-Thalibin karya Imam An-Nawawi disebutkan bahwa:

Shalat jamaah itu itu hukumnya fardhu `ain untuk shalat Jumat. Sedangkan untuk shalat fardhu lainnya, ada beberapa pendapat. Yang paling shahih hukumnya adalah fardhu kifayah, tapi juga ada yang mengatakan hukumnya sunnah dan yang lain lagi mengatakan hukumnya fardhu `ain.

Adapun dalil mereka ketika berpendapat seperti di atas adalah:

Dari Abi Darda` ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya.

Dari Malik bin Al-Huwairits bahwa Rasulullah SAW, Kembalilah kalian kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka shalat dan perintahkan mereka melakukannya. Bila waktu shalat tiba, maka hendaklah salah seorang kalian melantunkan azan dan yang paling tua menjadi imam. .

Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.

Al-Khatthabi dalam kitab Ma`alimus-Sunan jilid 1 halaman 160 berkata bahwa kebanyakan ulama As-Syafi`i mengatakan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya fardhu kifayah bukan fardhu `ain dengan berdasarkan hadits ini.

2. Pendapat Kedua: Fardhu `Ain

Yang berpendapat demikian adalah Atho` bin Abi Rabah, Al-Auza`i, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, umumnya ulama Al-Hanafiyah dan mazhab Hanabilah. Atho` berkata bahwa kewajiban yang harus dilakukan dan tidak halal selain itu, yaitu ketika seseorang mendengar azan, haruslah dia mendatanginya untuk shalat. .

Dalilnya adalah hadits berikut:

Dari Aisyah ra berkata, Siapa yang mendengar azan tapi tidak menjawabnya , maka dia tidak menginginkan kebaikan dan kebaikan tidak menginginkannya.

Dengan demikian bila seorang muslim meninggalkan shalat jamaah tanpa uzur, dia berdoa namun shalatnya tetap syah.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api. .

3. Pendapat Ketiga: Sunnah Muakkadah

Pendapat ini didukung oleh mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah sebagaimana disebutkan oleh imam As-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar jilid 3 halaman 146. Beliau berkata bahwa pendapat yang paling tengah dalam masalah hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakkadah. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya fardhu `ain, fardhu kifayah atau syarat syahnya shalat, tentu tidak bisa diterima.

Al-Karkhi dari ulama Al-Hanafiyah berkata bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah, namun tidak disunnahkan untuk tidak mengikutinya kecuali karena uzur. Dalam hal ini pengertian kalangan mazhab Al-Hanafiyah tentang sunnah muakkadah sama dengan wajib bagi orang lain. Artinya, sunnah muakkadah itu sama dengan wajib. .

Khalil, seorang ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah dalam kitabnya Al-Mukhtashar mengatakan bahwa shalat fardhu berjamaah selain shalat Jumat hukumnya sunnah muakkadah. Lihat Jawahirul Iklil jilid 1 halama 76.

Ibnul Juzzi berkata bahwa shalat fardhu yang dilakukan secara berjamaah itu hukumnya fardhu sunnah muakkadah. . Ad-Dardir dalam kitab Asy-Syarhu As-Shaghir jilid 1 halaman 244 berkata bahwa shalat fardhu dengan berjamaah dengan imam dan selain Jumat, hukumnya sunnah muakkadah.

Dalil yang mereka gunakan untuk pendapat mereka antara lain adalah dalil-dalil berikut ini:

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.

Ash-Shan`ani dalam kitabnya Subulus-Salam jilid 2 halaman 40 menyebutkan setelah menyebutkan hadits di atas bahwa hadits ini adalah dalil bahwa shalat fardhu berjamaah itu hukumnya tidak wajib.

Selain itu mereka juga menggunakan hadits berikut ini:

Dari Abi Musa ra. berkata bahwa Rasulullah SAw bersabda, Sesungguhnya orang yang mendapatkan ganjaran paling besar adalah orang yang paling jauh berjalannya. Orang yang menunggu shalat jamaah bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur.

4. Pendapat Keempat: Syarat Syahnya Shalat

Pendapat keempat adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukum syarat fardhu berjamaah adalah syarat syahnya shalat. Sehingga bagi mereka, shalat fardhu itu tidak syah kalau tidak dikerjakan dengan berjamaah.

Yang berpendapat seperti ini antara lain adalah Ibnu Taymiyah dalam salah satu pendapatnya . Demikian juga dengan Ibnul Qayyim, murid beliau. Juga Ibnu Aqil dan Ibnu Abi Musa serta mazhab Zhahiriyah . Termasuk di antaranya adalah para ahli hadits, Abul Hasan At-Tamimi, Abu Al-Barakat dari kalangan Al-Hanabilah serta Ibnu Khuzaemah.

Dalil yang mereka gunakan adalah:

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang mendengar azan tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada lagi shalat untuknya, kecuali karena ada uzur.

Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api. .

Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata, Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya, Apakah kamu dengar azan shalat? Ya, jawabnya. Datangilah, kata Rasulullah SAW. .

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc.

Sumber Shalat Dulu atau Kuliah Dulu? : http://assunnah.or.id

Maher Zain, Kedatangan Anda Dialu-alukan

Alhamdulillah.

Assalamualaikum. Seperti biasa blog ni masih lagi berkisar tentang permasalahan yang punya banyak pendapat sekiranya bukan copy paste . Sebelum ni banyak post saya berkenaan tajuk2 yang dibincangkan di Voice of Islam VOI (yahoogroup islamy salafy USMKK). Tapi kali ini terselit satu penulisan tentang satu permasalahan yang agak rumit dibincangkan, dan semestinya ada banyak pendapat,bergantung pada pengetahuan dan pengalaman seseorang.

Saya mengunjungi sebuah blog yang saya kenali ketika hangatnya kisah sebuah iklan TV3 memaparkan unsur2 kristian dalam babak2nya, yang setiap update blog tersebut diketahui melalui link di blog ini (lihat bawah kanan). Sebelum itu, bukanlah niat di hati untuk memburuk2kan blog dan penulisnya, sebaliknya sekadar memberi komen yang sedikit panjang lebar tentang entry post tersebut,jadi linknya saya adakan di sini. Tajuk ;

Sukar menerangkan sesuatu perkara kepada orang yang MALAS MEMBACA!

sedikit menjadikan saya curiosity, memandangkan saya sendiri seorang yang malas membaca kecuali beberapa ketika yang perlu. Mungkin ada tips2 tertentu yang boleh dikongsi oleh penulis.

Alangkah terkejut saya apabila yang ada hanyalah entry berkenaan komen tentang satu respon dari seorang pengguna Facebook (Al-Yahudiy) yang sedikit mengguris hati pembeli2 tiket Konsert Maher Zain. Dari itu saya terasa satu keperluan atas beberapa sebab untuk komen entry tersebut,
  1. Ia bukan satu perkara besar sehingga memalukan si pemberi respon di blog (walaupun namanya dipadamkan, mungkin ia masih boleh dikenali oleh sebahagian orang)
  2. Saya juga pengguna FB,cuma saya tidak mengaitkan FB dengan perkara serius,kerana sangat sedikit orang gunakan FB untuk perkara serius,selebihnya hanya untuk meluangkan masa dan cari benda2 lagha.
Jadi tidak semena2 satu komen di-post

"maaf mencelah.

bagi saya dalam beberapa hal dalam agama,kita kena berkeras dengan diri sendiri dan berlembut dengan orang lain.

terasa berani menyebut di sini, terlalu ramai ustaz2 yang menyebut2 tentang hal2 konsert2 ni... dan sebilangan besar mengatakan sama ada haram,makruh atau sia2.

bukan saya nak memperli, tapi sekadar perkongsian,.. entry2 syeikh sebelum ni agak menekan beberapa pihak,termasuk orang lain,tapi dalam hal yang menyukai nafsu berlembut pula.

memang nasyid medium dakwah,tapi untuk yang suka ke konsert lady gaga, atau gig2 metal rock boleh lah. saya ingatkan orang macam syeikh yang suka fatwa2 kan orang ni pun tidak sokong konsert.. hmmm,macam2 jenis orang.

dakwah ni macam2 cara, dan ikut u'ruf dan waqi' setempat. kalau nak wat konsert untuk pelajar pondok atas niat dakwah, saya orang pertama cakap ia menjurus kearah maksiat. kalau nak paksa orang yang biasa duk gi konsert untuk ke majlis2 zikr, macam tak sesuai.

kadang2 saya kesian pada perempuan yang lembut2, tudung labuh,laki2 yang biasa datang masjid,bagi takirah pu ke konsert. sedangkan,apa relevannya?


cik author membandingkan dengan orang2 yang ke konsert2 maksiat,.. sebenarnya ia macam menghalalkan yang haram. saya bagi pencerahan,kalau termampu, minum arak itu haram kan? tapi kalau ada orang buat arak yang tidak memabukkan? halal tak? lain la bagi orang yang memang tak boleh tinggalkan arak, jadi alternatif kene la dia beli arak yang tidak memabukkan dalam perjalanan menuju ke tak minum arak.

kes yang sama bila sebut politik, .. politik demokrasi, rajin baca pengasasnya? tapi sebahagian ulamak mengatakan wajib berpolitik demokrasi berparlimen, atas maslahat sebab tak ada jalan lain untuk ke parlimen(kekuasaan) melainkan demokrasi. politik nabi tiada demokrasi, keputusan mutlak ditangan amir.

jadi yang biasa ke surau, biasa tudung labuh, biasa bagi tazkirah... antum kena fikir balik. tengok balik dia (dalam FB) cakap untuk siapa,kalau bukan untuk yang datang masjid @ surau. yang ke konsert lady gaga entah2 surau dekat rumah pun tak pernah jejak..

wallahua'lam. saya fikir ia serius.

Assalamualaikum"

Saya sangka ia sudah mencukupi,rupanya memang sifat manusia yang suka berkhilaf, maka ada saja komen menyusul. Saya cukup teruja dengan komen seterusnya yang membawa dalil2 yang di-copy-paste- dari internet tentang taqrir (penyaksian nabi tanpa teguran~ salah satu yang boleh dijadikan dalil syar'ie) berkenaan harus bunyi2an. Namun cukup sedih ada pula yang mengambil taqrir ulamak yang lansung pada saya tidak boleh dijadikan dalil syariah yang sah. Berani saya katakan, saya berusaha dan berharap untuk menghormati semua ustaz-ustaz,guru-guru agama, dan ulama-ulama. Cuma bila ada tindakan yang bersalahan dengan pandangan yang diberikan beliau sebelumnya, atau mana-mana ustaz lain,maka perbuatannya perlu diteliti secara berhati2,. Prinsip seorang Islam beramal dengan ilmu, bukan ikut-ikutan. Tanya si pelaku sebelum bertindak mengikutnya.

Saya tidak menyebut dalam komen tentang pengharaman lagu,macam mana nak haram sedangkan saya sendiri seorang pendengar lagu Maher Zain,Zain Bikha, Ahmad Bukhatir dan beberapa penyanyi nasyid English lain. Dalam soal pengharaman yang tidak disebut oleh Al-Quran dan Hadith, maka tiada satu ulama akan berkata secara melulu berdasarkan pendapat sendiri dan kekuatan iman sendirii, sebab tu hukum feqah berubah mengikut zaman,suasana(waqi'), keperluan (maslahat), dan u'ruf setempat. Imam Al-Syafie sendiri ada qaul jadid dan qaul qadim. Apa yang saya sebut berkenaan lemahnya nasyid sebagai hiburan utama dalam Islam,sehingga sesiapa yang menentang nasyid dianggap kufur.

Contoh; Tahun lepas ayah benci mercun, maka tiada siapa yang akan beli mercun. Bulan lepas ayah nampak kami main mercun,tapi dia tunjuk muka marah. Pagi tadi kami selamber dek main mercun depan ayah, tapi muka dia tak nampak marah pun.

dalam contoh di atas, patut ke anak pergi minta ayah belikan mercun? atau kalau ayah tak belikan mercun maka ayah memang tak bertanggungjawab?

Saya rasa analogi di atas cukup ringkas tapi InsyaAllah boleh difahami. Begitu juga lagu-lagu, keharusan dalam lagu bukan bermakna ia kemestian. Ia cuma keringanan dalam agama sebagai pelengkap hidup dan pelayan nafsu ketika bosan berzikir dan beribadah, dan ia Fitrah manusia(ia disebut dalam kitab yang tidak dapat saya sertakan di sini, atas kelemahan saya). Keharusan ulama dalam hal mendengar lagu bukan menyebabkan ia menjadi satu perkara yang penting, sedangkan ia mengikut nafsu pada asasnya.

Tentang keharusan yang disebut dalam hadith ialah lagu2 yang dimainkan ketika walimah, yang ia diharuskan dan bukan disunatkan. Ulama seperti Habib Ali sendiri menyebut perkataan "tidak mengapa" iaitu ia bukan suatu kemestian,tetapi sesiapa yang ungin mengadakannya dipersilakan. Namun cukup menyedihkan bila ada yang memperlekehkan sesiapa yang tidak tahu perkembangan industri nasyid semasa sedangkan ia bukanlah suatu cabang pun dalam syariat,melainkan hanya wadah yang digunakan untuk satu cabang dalam syariat (dakwah). itupun bukanlah utama,kerana ia lebih kepada melayan nafsu ,mendengar.

Saya cukup terkilan apabila ada pula yang menyebut lagu2 sufi dan membandingkannya, sedangkan lagu2 sufi meskipun menggunakan alat-alatan muzik yang diharamkan sesetengah ulamak, ia masih menyebabkan air mata gugur,dan menambah kekhusyukan kepada zikir. Ia tidak terbanding dengan nasyid2 yang ada sekarang. Itupun penggunaan alatan tersebut masih diperbincangkan halal-haramnya (saya pegang hukum harus).


Sekali lagi saya tekankan komen saya bukan untuk semua,cuba lihat pada waqi' setempat dan hikmah dalam dakwah. Sekiranya anda rasa anda seorang yang sudah menikmati indahnya zikir dan bacaan al-quran,maka konsert bukan suatu keperluan. Sekiranya anda sudah bertudung labuh,sopan dalam percakapan, dan segan bergaul dengan bukan mahram, maka datang ke konsert lebih besar fitnahnya. Sekiranya anda ahli tazkirah, pemberi nasihat, naqib2 atau karkun2 strong, apa perlu lagi konsert? Bukankah sekarang ia sudah menjadi hiburan. Dan jangan samakan dakwah dengan hiburan! Perlu diketahui, seorang yang sentiasa istiqamah amalan, maka perlu berjaga2 dalam mencari hiburan yang sopan. Sebaliknya buat yang baru mengenali Islam, maka mungkin lagu2 merupakan dakwah yang sesuai.

Sedarlah wahai muslim, konsert; suatu protokol mendengar muzik ciptaan yahudi. Ia tiada asal dalam Islam. Apa lagi bila menganggu waktu solat, dan tugasan dakwah harian. Sekiranya bosan cukuplah file2 muzik di laptop jadi hiburan pada waktu yang sedikit. Ia bukanlah seruan, tetapi sekadar alternatif bagi yang sangat bosan, download saja nasyid2 dar internet. Syaikh Al-Afasy sendiri berNasyid!

Akhir kalam, bukan saya menegah membeli tiket untuk konsert tersebut,kerana ia masih dalam garis harus kalangan ulama (sebahagian). Yang sudah itu teruskan,kerana membazir itu jauh lebih dibenci dari perkara makruh. Cuma imbangkan entry kali ini dengan ilmu di dada anda. Biarlah konsert nasyid menjadi alternatif kepada gig2 metal rock dan konsert2 Lady Gaga dan Inul, daripada menjadi alternatif kepada tazkirah2,zikir2, dan bacaan2 Al-quran.

Wallahua'lam. Moga Allah beri saya keampunan dan kekuatan beramal.

p/s; saya peminat Maher Zain
p/s; saya juga download lagu dari internet 4shared

Followers